SENI TARI, KESENIAN DI ERA BUDAYA MODERN [KESENIAN SENI TARI]

    SENI TARI, KESENIAN DI ERA BUDAYA MODERN

    Seni Tari (koreografi), hingga saat ini masih dipandang sebagai ketrampilan yang dipelajari oleh siswa sekolah. Berbagai alasan yang didorongkan untuk memasyarakatkan seni tari koreografi agar menjadi bagian dari materi bahan ajar di sekolah. Usaha itu dari pandangan tertentu memang dapat dibenarkan, akan tetapi dalam pandangan yang bersifat mendasar tentunya tidak hanya sebatas sebagai materi ketrampilan yang penting dipelajari oleh siswa sekolah.

    Seni tari (Koreografi) sebagai salah hasil budaya masyarakat memiliki aspek yang menduduki setidaknya ada 3 yakni, (a) idiofac, (b) sociofac, dan (c) tehnofac. Ide terungkapkan dalam bentuk kesenian, bentuk kekuatan yang disebut “akal budi” artinya manusia akan memproses segala data atau informasi. Akal budi merupakan pemberian, sekaligus potensi dalam diri manusia yang tidak dimiliki makhluk lainnya. Akal adalah kemampuan berfikir manusia sebagai kodrat alami yang dimiliki, yang berfungsi untuk berfikir dalam menyelesaikan masalah-masalah. Budi berarti juga akal. Budi berasal dari bahasa sanskerta “budh” yang berarti akal. Budi adalah bagian dri kata hati berupa panduan akal dan perasaan dan yang dapat membedakan baik dan buruknya akan sesuatu itu. Menurut Sultan Takdir Alisyahbana, Budi-lah yang menyebabkan manusia mengembangkan suatu hubungan yang bermakna dengan alam sekitarnya dengan jalan memberikan penilaian objektif terhadap objek dan kajian. Oleh sebab itu, seni tari (koreografi) dipelajari bukan hanya oleh siswa, akan tetapi semua masyarakat. Cara mempelajari tidak semua orang berbodong-bondong belajar ke sanggar tari. Akan tetapi ‘keterlibatan’ masyarakat dalam peristiwa kehadiran seni tari. Bahkan secara sadar bersedia  memahani berbagai aspek yang menurut level pengetahuan masyarakat.

    Pemahaman dari aspek sociofac, bahwa seni tari (koreografi) dipandang sebagai hasil interaksi masyarakat. Kehadiran sebuah kesenian atas kemampuan dialogis (komunikasi) sosial. Jika menurut tata nilai dan tata laku (tindakan) ditolak, maka sebuah kesenian tari tentu tidak akan hidup. Maka ruang sosial yang disediakan oleh masyarakat diperlukan pemahaman. Apa sebabnya sebuah kesenian itu hadir didalam perkembangan sebuah masyarakat. Sudah barang tentu, kesenian itu memiliki tata nilai yang disepakati bersama, tata nilai yang sangat berarti adalah “estetik”. Citarasa keindahan dari sebuah masyarakat menuntukan tingkat jangkauan rasa. Tingkatan jangkauan rasa ini menunjukan juga tingkat peradaban suatu masyarakat.

    Tehnofac adalah tingkat ketrampilan yang mampu dijangkau untuk mengatasi berbagai problema kehidupan. Memang selama ini tidak menjadi perhatian banyak orang. Bahwa kesenian itu menyimpan aspek ‘teknik’. Istilah teknik hanya dipahami sebagai hasil teknologi, barang pabrikan yang mewakili tingkat peradaban modern. Pada kehadiran kesenian tari, ada aspek ‘teknik’ yang menyimpan tingkat kemampuan masyarakat dalam tindakan memposisikannya pada tingkat ‘trampil’. Orang Jawa memahami dengan istilah “rawit”, “remit”, atau “rumit”. Kesenian yang menunjukan aspek teknologi trampil itu adalah merupakan sebuah pencapaian yang membutuhkan rentang waktu yang tidak sebentar. Teknologi yang tersimpan dalam kesenian tari adalah cara masyarakat merepresentsikan kemampuan trampil yang sudah dicapai. Oleh karena itu, dalam sebuah seni tari (koreografi) dapat diperhatikan adanya ‘sejarah tubuh’. Tubuh yang trampil tentu tubuh yang sudah mengalamai sebuah perjalanan yang panjang. Maka dalam pandangan ini pengertian ‘pelestarian’ tidak sama benar dengan usaha ‘mempakemkan’.

    Sehingga tidak ada kemungkinan dari generasi muda untuk menyumpangkan pencapaian kemampuan trampil. seri tari (Koreografi) dari masyarakat pegunungan akan sangat banyak mempresentaskikan ketrampilan yang diperoleh melalui ‘sejarah kaki’, masyarakat agraris yang sehari-hari banyak terlibat pada usaha pertanian akan menunjukan kemampuan tingkat tinggi dari ‘sejarah tangan’. Tari India merupakan jenis tari yang memiliki sejarah tangan yang paling kompleks, karena memiliki kurang lebih 120 jenis gerak tangan yng disebut Mudra. Oleh sebab itu, mudra pada tari India memiliki keterkaitan dengn religi masyarakatnya. Hal ini menunjukan, tari India tidak berdiri sendiri sebagai bentuk karya seniman yang hanya didasarkan atas kreativitas, akan tetapi jelas-jelas memiliki tiga aspek kebudayaan.

    Menyimak sejarah perkembangan gerak dalam kehidupan manusia, tampaknya untuk mengenali “Gerak” tidak terlalu sulit. Tetapi memahami pengalaman gerak manusia yang memiliki virtualitas ternyata sejak awal sejarah manusia tetap menjadi pemikiran yang tak habis-habisnya diperbincangkan. Hal ini karenakan adanya kualitas gerak yang tidak hanya sekedar sebagai alat yang bersifat mekanistik. Sal Murgiyanto (1983:30) kritikus tari Indonesia itu mencermati gerak sebagai kemampuan manusia yang lebih mendalam, yaitu untuk pemenuhi kebutuhan batin. Manusia ditakdirkan mempunyai potensi pengolahan gerak tubuh sebagai media komunikasi. Gerak bukan warisan genetika, akan tetapi dihasilkan dari peningkatan pengalaman hidup dalam bersosialisasi yang berkualitas.

    Memahami gerak pada dasarnya memahami bahasa manusia yang bersifat alami, artinya bukan bahasa yng digerakkan dengan logika pikir, akan tetapi aspek potensial yang keluar dari perasaan (pengalaman batin). Maka kehadiran  gerak membutuhkan penghayatan yang tidak sekedar interpretasi ragawi terhadap objek imitatifnya.YB. Mangunwijaya merenungkan perihal sepiritual gerak manusia sehari-hari. Gerak dan pengalaman manusia yang bersifat matriaslis (wadag) masih dapat dihayati sebagai sebuah puisi yang indah, anugrah Tuhan yang mengangkat hidup sehari-hari manusia menjadi lebih bermakna (Mangunwijaya, 1986).

    Renungan YB. Mangunwijaya menempatkan kehadiran gerak tidak lagi memuat makna verbal, namun kehadiran gerak tubuh manusia  hadir dengan potensi virtualitasnya. Di sini orang harus belajar dari pengalaman dan pengetahuan untuk memahaminya. Sebagai gambaran, sebuah spirit virtualitas yang dibangkitkan dari gerakan masyarakat purba. Gerakan yang hadir demikian alami, penuh daya hidup dengan penghayatan segenap jiwa. Terlebih lagi gerakan tercurah dengan penuh respon terhadap gendang-gendang yang bertalu-talu. Suara gemuruh semakin membakar emosi dan menggerakkan denyut nadi semakin berpacu. Tangan dan kaki, serta bagian tubuh lainnya seperti berterbangan. Pemandangan ini juga terjadi pada masyarakat purba yang pernah hidup 1 – 2 juta tahun yang silam, yaitu spesis manusia Australopithecanus di Afrika Timur dan Selatan. Gerakan yang dimiliki diduga lahir secara spontan oleh karena adanya rangsangan (stimulus) dari suasana badai gurun yang dahsyat. Suara badai yang gemuruh dan mengerikan itu, ternyata disambut dengan gerakan sebagai bentuk ungkapan rasa takut, kengerian, dan sekaligus perlawanan (Akwan, 1984 : 33). Paparan itu menunjukan, bahwa perkembangan sejarah manusia telah bertemu dengan perubahan dinamika emosional, sehingga mereka benar-benar menghayati terhadap kehidupan itu sendiri.

    Kutipan pengalaman manusia melalui ‘gerak’ itu  menunjukkan, bahwa tubuh manusia yang melahirkan gerakan yang ditimbulkan karena keinginan berkomunikasi, tetapi gerakan yang ditimbulkan benar-benar ditumbuhkan oleh desakan yang kuat dari dalam dirinya sendiri. Pada waktu itu telah terjadi sebuah  sebuah konstrasi tenaga yang maha dahsyat dan luapan emosi yang tak terkendalikan. Maka seluruh tubuh menjadi wahana penyaluran energi; otot-otot dan seluruh anggota badan yang memiliki fungsi mekanis tidak lagi bekerja sebagai sarana pembantu untuk bekerja. Tetapi telah beralih menjadi sajian atraktif dengan dorongan yang sangat kuat dan dahsyat dalam upaya menanggapi (berdialog) dengan alam.

    IDENTITAS BUDAYA SENI TARI

    Identitas budaya yang belakangan ini tumbuh beriring-iringan dengan perubahan politik, yaitu ‘otonomi daerah’. Pandangan aspek kebudayaan, dimaknai sebagai aspek ‘pembeda’, kekhasan yang dimungkinkan dapat menunjukan aspek kejatidirian.
    Identitas sangat penting. identitas untuk membantu masyarakat luas untuk dapat mengenal individu atapun komunitas, baik dari segi budaya, religi, politik ataupun berbagai aspek sosial lain.

    Identitas dapat memandu seseorang dalam memilah sikap dan tindakan mencapai tujuan hidup, misalnya seseorang yang ingin masuk dalam  komunitas, maka sesorang harus mengenal identitas komunitas itu, dengan demikian maka untuk selanjutnya apabila sudah mengenal dan mengerti tentang karakteristik komunitas tersebut dia dapat mengembangkan potensi dan mengambil sikap yang poistif.
    Identitas sebuah komunitas memiliki dapat diperhatikan dari unsur kebudayaan, salah satunya adalah seni tari(koreografi). Dalam keterkaitan ini yang dapat dicermati adalah berupa ‘tanda-tanda’ yang melekat pada seluruh wujud seni tari (koreografi), yang sangat mendasar adalah ‘gerak’ dan ‘musik’, aspek tanda yang mendukung adalah kostum, poroperti, sistem formasi, dan aspek pemanggungan. Hal ini berkaitan dengan bentuk seni tari(Koreografi).

    Ekspresi sebuah komunitas yang ditampakan melalui seni tari (koreografi) tunggal (solo dance) adalah mereduksi seluruh aspek genetika yang ditransformasikan dari aspek yang sangat mendasar, yaitu religi dan filosofi. Bentuk sajian tari tunggal pada komunitas tertentu mempresentasikan tanda-tanda atas aspek yang disebut dengan ‘pribadi’. Penampilan seni tari (koreografi) dalam bentuk kelompok kecil, yaitu bentuk tari berpasangan, yang disajikan oleh penari laki-laki dan perempuan, atau laki-laki dengan laki-laki, atau sebaliknya. Pada aspek gerak dapat diperhatikan melalui kontak tubuh, apakah ditampakan aspek interaktif yang besifat kontradiktif (berlawanan) atau bersifat komplemeter (penyatuan). Demikan juga tanda-tanda yang dapat diperhatikan pada seni tari (koreografi) kelompok (group choreographi) apakah disajikan dalam bentuk ‘drama’ atau ‘dramatik’. Bentuk drama lebih menyampaikan aspek kronologis, sehingga latar kesejarahan di dalam penyajian lebih ditonjolkan sebagai isi komunikasi estetiknya. Bendruk dramatik adalah penyajian yang menitik beratkan sebagai ungkapan batin, pengalaman rasa dan penghayatan filosofis.

    Aspek tata rias dan busana adalah tanda-tanda yang sangat mudah dikenali, karena aspek ini memuat aspek garis, warna, dan juga motif-motif yang dapat menunjukan karah mana masyarakat mempotensikan pikiran dan perasannya (aspek ideofac). Perpaduan antar warna yang memuat simbolisasi, seperti Pareanom (buah pare yang muda) dikomunikasikan melalui warna kuning dan hijau, Gula kelapa dikomunikasikan melalui warna merah dan putih, warna hitam sebagai simbol keteguhan, warna merah simbol keberanian dan juga keperkasaan (kuasa+kekuatan). Ornamentik yang mengarah pada aspek yang bersifat dekoratif objek daun dan bunga adalah mengkomunikasikan aspek yang bersifat klasikal, geometrik mengkomunikasikan kesederhanaan. Ornamentik yang mengarah pada peniruan (imitasi) atribut dari meliter, dapat dipahami adanya penghayatan masyarakat terhadap hal-hal yang berhubungan dengan semangat perjuangan. Karena atribut meliter yang ditranformasi dalam bentuk kesenian tari menginformasikan aspek semangat yang pernah dikondisikan pada masa lalu.

    Alat musik dan properti, ada banyak bentuk tari yang menyertakan alat musik sebagai properti. Sehingga seni tari (koreografi) itu sangat terkait erat dengan teknik bermain musik. Aspek ini sangat dekat dengan pola semangat yang bersifat heroik (kepehlawanan). Pada umumnya alat musik yang digunakan adalah jenis membranofon. Alat musik yang berupa kendang, gendrang, atau “reog” (pengertian ini mengarah pada alat musik yang ditabuh. Di Jawa barat istilkah reog adalah komposisi musik yang menggunakan alat membranofon). Penulis berasimsi, bahwa reog memang terkait dengan menabuh alat musik memberanofon, akan tetapi memiliki penekanana bahwa bentuk seni tari (koreografi)nya adalah display  (arak-arakan). Pengertian ini yang harus dikaji lebih mendalam, sehingga benar-benar dapat ditemukan aspek identitas yang mampu dirumuskan sebagai sebuah ciri yang khas dari pernyataan kepribadian sebuah masyarakat.
    Pemanggungan sebuah tari sangat terkait dengan pemahaman ruang pentas, tari yang disajikan di pendapa sangat terkait dengan strata kebangsawaan Jawa. Sementara ada masyarakat yang mengekspresikan diri melalui gerak tari pada tanah lapang, bahkan ada yang mengekspresikan di jalan raya, umumnya penyajian jenis seni tari (koreografi)nya disebut display atau karnaval. Bentuk ini erat hubungannya dengan tradisi yang bersifat informatif dan menampilkan aspek kekuatan, kekuasaan, dan semangat yang bergelora.

    SIKAP SENI TARI DI ERA BUDAYA GLOBAL

    Pada kajian etno-koreologi bahwa seni tari (koreografi) sangat terkait dengan tiga aspek kebudayaan (idiofac, sociofak, dan tehnofak). Sehingga tidak ada istilah yang disebut “lestari” tanpa ada sentuhan zamannya. Karena sesuatu yang dianggap lestri itu adalah sebuah potensi dari kesenian tari yang mampu berdialog dengan masyarakat pada zamannya. Oleh karena itu, setiap unsur dalam lembaga sosial dan politis tentunya diharapkan benar-benar dapat mengambil sikap dan secara bersama-sama bersedia memberikan ruang potensial bagi kesenia agar mampu berdialog dengan masyarakat pada zamannya.

    seni tari (Koreografi) yang dianggam memiliki identitas pada sebuah komunitas atau masyarakat dibutuhkan cara mengenali dengan bahasa yang bersifat ‘kekinian’, yaitu cara masyarakat memahami maknanya secara khas menurut tingkat peradaban masa kini. Kita tidak dapat memahami sebuah seni tari (koreografi) dengan cara yang lama. Akan tetapi nilai-nilai yang dibawa dapat bertransformasi dan mengambil fungsinya yang baru.

    Cara yang khas dalam menyikapi perkembangan budaya di era Global adalah memahami potensi ‘lokal’ akan tetapi dikomunikasikan secara global. Bukan sebalikanya, sikap masyarakat yang secara terus meneruh mengkonsumsi budaya global, akan tetapi tidak mampu meresfon potensi yang lokal. Jika hal ini terjadi maka dalam waktu mendatang, segala identitas yang memiliki karakteristik akan berangsur-angsur digantikan dengan nilai yang bersifat seragam. Sehingga karakteristik masyarakat tidak lagi memiliki potensi dalam berdialog dengan perkembagan budaya dari masyarakat yang lain, hal ini yang disebut dengan ‘kehilangan kebudayaan terutama seni tari’.

    LihatTutupKomentar