Adat, Budaya dan Tradisi Masyarakat Jawa yang Tetap di Lestarikan

    Beberapa Adat, Budaya dan Tradisi Masyarakat Jawa

    Beberapa Adat, Budaya dan Tradisi Masyarakat Jawa yang Tetap di Lestarikan

    Masyarakat Jawa adalah komunias yang meyakini dirinya dilahirkan oleh lajur etnik yang di sebut ‘Jawa’. Orang yang berposisi didalam rahan budaya yang memiliki keyakinan bahwa orang yang benar, karena mereka yakini bahwa yang ‘salah’ itu ‘seleh’. Oleh karena pandangan itu, bagi orang Jawa lebih menggunakan aspek ‘rasa’ dari pada ‘pikir’, karena pikiran itu adalah daya kekuatan yang mampu membelokkan iman, keteguhan, dan tujuan.

    Mereka yang berada di ranah dan merasa mengalir genetika yang disebut ‘Jawa’ dari waktu ke waktu telah mengalami perubahan, walaupun tampak terasa lambat. Beberapa kota di Jawa (Jawa Tengah dan Timur) yang memang terasa benar  seolah-oleh masih terasa tradisi etniknya, namun pada kenyataannya berbagai aspek yang menunjukan ke’jawa’an mulai ditinggalkan karena berbagai alasan kepraktisan.

    Selain dari pada itu, Masyarakat Jawa yang sangat dekat dengan berbagai ritual tradisional tampak terasa menyulitkan, seperti terasa adanya beban yang berat jika harus dipikul secara pribadi. Oleh karena itu, jalan pintas yang berasaskan kraptisan sering ditempuh. Misalnya tradisi selamatan yang ditujukan untuk ritus kematian atau kelahiran, seringkali keluarga kota mimilih memesan tumpeng dari agen ketering. Sehingga keluarga di rumah tidak merasa ribet (sulit-ribut). Sementara berbagai  aspek yang menyertai atau persyaratan yang dianggap tidak sangat penting juga akan diabaikan. Hal tersebut semata-mata hanya ditujukan agar waktu dan tenaga tidak disita untuk melakukan  proses penyiapan uba rampe (kelengkapan) yang diolah, disusun, dirangkai, atau dibentuk untuk menggambarkan perwujudan simbolis.

    Tumpeng dalam berbagai selamatan pada ritus masyarakat Jawa adalah hasil olehan berbagai hasil bumi dan hewan yang disusun, dirangkai, dan dibentuk menyerupai gunung. Kerutut nasi yang dikelilingi olahan sayur mayur dan lauk, tidak sekedar  ditata rapi untuk membuat orang tertarik melihatnya. Tetapi biyodo (wanita yang membantu memasak) benar-benar memanjatkan doa melalui berbagai sayur mayur yang diolahnya.

    Sayur mayur dan olahan lauk yang di gelar di atas tikar dan dikelilingi oleh mereka yang diundang menyaksikan si empunya hajat, kemudian diiringi dengan doa-doa Jawa dan juga arab. Orang-orang kuno, mereka lebih manap dengan doa Jawa, karena semua olahan sayur manyur dan lauk disebut satu persatu dan diutarakan maksudnya serta ditujukan pada ahli kuburnya, dan juga mengungkapkan harapan bagi mereka yang menyelenggarakan hajat (sakibul hajat). Para saksi pada ritual itu menyambutnya dengan suka cita, dan merasakan bahwa berbagai olehan sayur mayur, lauk, dan nasi yang disiapkan oleh para biyodo dan telah dipersembahkan pada para leluhur, kemudian menjadi berkah. Semua undangan yang hadir sebagai saksi kemudian pulang dengan membawa ‘berkat’, yaitu bungkusan nasi beserta lauk pauk, dan juga dilengkapi dengan kue-kue.

    Ritual selamatan ini merupakan ekpresi harapan serta cara menghalau ketidak pastian hidup manusia. Manusia Jawa menyadari bahwa di dunia ini berada dalam kondisi yang tidak pasti (sementara), harapan yang selalu diupayakan adalah ‘manunggaling rasa’, untuk itu mereka selalu sadar berlatih ‘olah rasa’.

    Rasa bukan sesuatu yang bersifat verbal atau visual, tetapi sebuah bahasa yang dilakukan oleh mereka yang sudah tidak lagi memandang realitas ini sebagai sesuatu yang benar-benar nyata. Karena realitas yang setiap hari merangsang pikiran untuk memasuki ranah percepatan ruang-waktu dapat mengabaikan sensitivitas rasa. Bahkan akan cenderung mengabaikan sesuatu yang bukan realitas, sesuatu yang ‘gaib’.

    Masyarakat Jawa berkomunikasi dengan sesuatu yang gaib karena ingin memahami realitas yang gaib, yaitu menyatunya dunia realitas dengan dunia imajiner. Ini yang dipahami oleh orang Jawa sebagai ‘alus’ dan ‘kasar’. Manusia berada dalam alam yang bersifat ‘kasar’, alam materi yang menempatkan pikiran untuk menyatakan dalam upaya observasinya, sementara ‘alus’ adalah alam roh yang menuntut batin melakukan kontenplatif.

    LihatTutupKomentar