PRODUKSI BUDAYA MASYARAKAT AGRARIS

    Kebudayaan Masyarakat Agraris

     

    Masyarakat Agraris

    Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat agraris. Para pengkaji kebudayaan memaklumi tentang potensi manusia dalam menciptakan kebutuhan produksi bahan makanan yang dibudidayakan, terlebih perkembangan dewasa ini. Kebutuhan bahan makan hasil budidaya sangat mendorong manusia untuk memenuhi kebutuhan yang beragam. Kepentingannya kadang terfokus pada kepentingan ritual berbagai jenis religi dan adat. Bahkan untuk berbagai kebutuhan yang bersifat keseharian.
     
    Semua orang memaklumi, bahwa kebutuhan berbagai produk bahan makan olehan baik sayur mayur, buah-buahan, dan daging menempati posisi sentral dalam kehidupan. Hal itu disebabkan oleh fungsinya dalam mempertahankan kelangsungan hidup, dan juga sebagai kebutuhan kesehatan dan prestis.
    Pembudidayaan bahan makan yang dikembangkan berbagai gagasan, tindakan, atau hasil material prodak. Hasil budidaya yang diusahakan oleh manusia dan bersifat fungsional. Manusia setiap waktu selalu mengalami perubahan, meningkat terhadap kebutuhan sehari-hari karena meningkatnya populasi manusia. Ada yang dipicu oleh kondisi dan situasi yang memaksa yaitu kebutuhan terhadap gaya hidup metropolis, atau kondisi yang membatasi terhadap kepentingan kesehatan. Manusia harus mengkonsumsi sayur, buah, atau pruduk bahan makanan khusus. Semua hal ikwal itu menuntut manusia untuk bekerja secara kreatif dengan melakukan percobaan-percobaan dan juga kegagalan dari padanya.
     
    Masyarakat agraris yang sangat menggantungkan terhadap hasil bumi dan juga konsumennya, keduanya saling mendorong-mendorong dan menuntut hadirnya sesuatu prodak bahan hasil pertanian yang selalu baru (inovasi), bahkan disisi lain juga ada yang mempertahankan ciri-ciri produk agraris tertentu untuk bahan ekspor. Karena permintaan hasil bahan produk hortikultural itu membutuhkan prilaku yang khusus.
     
    Semua yang dilakukan oleh manusia itu berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup yang tidak ada batasnya. Kebutuhan itu sendiri merupakan pola budaya yang memasukan manusia dalam era ‘konsumtif.’ Di sisi yang lain, manusia pada awalnya didorong oleh kebutuhan yang sangat sederhana yaitu membantu manusia makanan untuk mempertahankan hidup. Mereka cukup memunguti buah-buahan yang jatuh dari pohon, membudayakan hasil pertanian adalah lompatan yang sangat luar biasa. Termasuk berbagai usaha untuk penyebarlauasan dan pengembangan unsur-unsur yang dianggap tidak lagi mampu memenuhi selera zamannya. Arah pembudidayakan bahan produksi pertanian tidak hanya cukup dengan cara menual, nananam dan menuainnya yang dilakukan oleh individu dan beberapa anggota keluarga. Kini telah tumbuh secara beragam pabrik-pabrik sekala nasional dan internasional yang memfokuskan hasil produksi bahan makan yang hegienis. Perkembangan mutahir itu juga diikuti perangkat keamanan yang mempertimbangkan kaidah-kaidah hukum.
     
    Produk agraris yang semula hanya terpokus pada hasil pertanian, dari masa ke masa telah mengalami perkembangan dan persebaran. Kemajuan teknik produksinya digunakan untuk memenuhi berbagai sekmen yang mempertimbangkan penelitian untuk mengembangkan prodak yang mampu mempertimbangkan kebutuhan tuntutan "ruang" dan "waktu".
     
    Kemampuan keterampilan masayarakat agraris yang semula hanya dilakukan oleh komunitas yang terbatas di lingkungan adat. Kemudian, mengalami perkembangan dan atau terjadi revolosi pertanian yang mampu mengubah berbagai spesies. Sehingga manusia mampu mendalami realitas yang terjadi di masa lalu, dan juga menembus waktu masa yang datang. Prodaksi masyarakat agraris tidak hanya dilakukan dengan cara-cara yang bersifat manual, dikerjakan satu persatu. Produksi dipertimbangkan mulai dari pesiapan penelitian benih, percobaan-percobaaan berbagai faritas yang dipublikasikan dengan berbagai keunggulan, dan diprodukis secara masal. Berdirinya pabrik-pabrik pasca pruduksi hasil pertanian juga mengikuti lajunya pertumbuhan hasil. Cara-cara mengkonsumsi dan banyaknya kebutuhan dipasar juga melibatkan berbagai ahli manajemen yang menciptakan sekmen tertentu. Bahkan lompatan kreativitas yang sangat luar biasa, karena kebutuhan manusia yang berusaha ingin memenuhi impresi selera konsuminya.
     
    Kebutuhan manusia tidak hanya memenuhi kebutuhan yang sifatnya olah kerja fisik. Dorongan manusia untuk memenuhi kebutuhan konsumsi, atau hanya memenuhi kebuhan sehari-hari. Mulai dari cara mengolah, mengemas, dan mendistribusikan sehingga menciptakan menempatkan hasil produksi pertanian menjadi benda-benda yang digunakan oleh manusia secara luas.
     
    Hasil produksi agraris tidak hanya dikonsumsi dalam kondisi yang terkait dengan adat tradisi. Tetapi sensasi konsumsi dan kreasi penyajian sebagai produk kuliner yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan gaya hidup yang beragam di berbagai belahan dunia. Produsi hasil masyarakat agraris meningkat dan menawarkan bervariasi dan berkembang yang ditempatkan pada status yang bersifat hirarkis. Pola makan yang berkembang dari berbagai masyarakat membutuhkan produksi sesuai dengan cita rasa penikmatan yang bersifat umum, atau cita rasa yang terbatas dan bersifat ekslusif. Kebutuhan untuk memenuhi pasar-pasar tradisional hingga hipermarket.
     
    Kebutuhan manusia semula sangat sederhana, hanya untuk memenuhi ketubuhan untuk memenuhi kebutuhan mempertahankan hidup. Dari waktu ke waktu kebutuhan manusia berkembang hingga mencapai kompleksitasnya. Bahkan pola produksi pengolahan unsur-unsur pertanian tertentu hingga mencapai tata cara tertentu untuk menempatkan status drajat dari komunitas masyarakat tertentu. Pengklasifikasian itu adalah cara manusia menempatkan produksi agraris tidak hanya kegiatan yang bersifat pribadi yang digunakan untuk menandai kebutuhan sehari-hari. Produksi agraris adalah cara yang dikembangkan dari gagasan, mengubah matrial, atau memproduksi ide-ide yang meningkatkan cirta hidup manusia dari kondisi yang sederhana hingga peningkatan kualitas sesuai dengan pencapaian tingkat kehidupan.
    LihatTutupKomentar